SISTEM  PEMERINTAHAN, PENDIDIKAN DAN SOSIAL PADA JAMAN PENDUDUKAN JEPANG


Di awal-awal kedatangannya,  sebagaimana di daerahlain di Indonesia, pemerintah Jepang banyak melakukan perubahan dalam bidang sosial, pendidikan bahkan dalam bidang pemerintahan. Dibidang pendidikan misalnya, banyak sekali yang dirubah, semilsal pelarangan buku-buku berbahasa Belanda dan lain-lain. Pada awal kedatangannya ke Indonesia, pemerintah meliter Jepang membekukan semua kegiatan pendidikan yang dianggap sangat rumit yang diadakan pada masa kolonial Belanda. Usaha tersebut sekaligus mengikis pengaruh belandadi Indonesia. 

Pada tahun 1942 jepang mengadakan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap buku-buku berbahasa Belanda. Semua itu bermaksud untuk menghilangkan pengaruh barat dan meninggikan derajat bangsa Asia dibawah kekuasaan dan pimpinan jepang.Sistem pendidikan yang pada masa kolonial dibagi atas dasar ras dan golongan, pada masa penjajahan jepang dihapus, masyarakat mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Tujuan utamanya bukan hanya menghilangkan droktinisasi pendidikan ala barat yang pernah dijalankan oleh pemerintah Kolonial selama berpuluh-puluh tahun, namun tujuan utama pemerintah jepang adalah memenangkan peperangan. Maksudnya dengan mendidik masyarakat Indonesia, mereka bisa memanfaatkannya untuk kepentingan tenaga kerja Jepang bukan untuk mencerdasakan masyarakat Indonesia. 

Di masa akhir pendudukannya , dengan landasan semangat “Hakko Icchiu”, yang menjadi landasan pokok utama pendidikan pada masa itu, mereka mengajak masyakat Indonesia untuk bekerjasama “memakmurkan Asia Raya”. Setiap hari para murid-murid di sekolah dari semua tingkatan diangkat sumpah setianya untuk kaisar Jepang. Pada masa pendudukan Jepang terdapat tiga prinsip pokok kebijaksanaan dibidang pendidikan yaitu :Pendidikan ditata kembali atas dasar penyeragaman dan kesesamaan untuk seluruh kelompok etnis dan kelas social.Secara sistematis pengaruh pendidikan Belanda dihapus dari sekolah-sekolah, sedangkan unsure-unsur kebudayaan Indonesia dijadikan landasan utama.Semua lembaga pendidikan dijadikan alat untuk memasukan doktrin gagasan kemakmuran bersama Asia Tenggara dibawah pimpinan Jepang.Perubahan istilah dan nama jenjang sekolah pada jaman Pendudukan Jepang, sebagai berikut :Jenjang sekolah dasar menggunakan istilah Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin GakkoJenjang sekolah menengah pertama (SMP) atau Shotchu Gakko.Jenjang sekolah menengah tinggi (SMT) atau Koto Chu Gakko.Jenjang perguruan tinggi. Perguruan tinggi tersebut adalah :a.    Sokolah tinggi kedokteran (Ika Dai Gakko) di Jakarta.b.    Sekolah teknik tinggi (Kogyo Dai Gakko ) di Bandungc.    

Sekolah tinggi Pamong Praja (Kenkoku Gakuin)d.    Sekolah tinggi Kedokteran Hewan di BogorDi sumenep, tidak semua jenjang-jenjang pendidikan itu ada. Di Sumenep hanya ada sekolah SR atau Kokumin Gakko dan Sekolah pelayaran. Sekolah SR (Kokumin Gakko)  lokasinya ada di Pangligur (sekarang ditempati oleh SMPN 1 Sumenep) dan di Pajagalan (sekarang SDN Pajagalan 1)  serta Sekolahpelayaran “Madura Seining Yosesyo  no Seito” (sekarang kantor dinas Pengairan Kab. Sumenep) dengan direktur sekolahnya bernama Yanakita.Keberadaan sekolah-sekolah tersebut diperkuat oleh pernyataan Maknoen dalam makalah sehari yang disusun oleh sulaiman sebuah makalah pokok saresahan sehari tahun 1994 :

“ … Sekolah yang ada hanyalah sekolah pengairan dengan nama “Madura Seining Yosesyo  no Seito”. Di sekolah pelayaran ini kami diasramakan di Pabiyan menjadi satu dengan lokasi sekolah… Pendidikan yang diterapkan oleh Jepang cukup menyiksa jasmani dan rohani  karena kekejaman guru-guru Jepang menghukum dengan memukul yang semena-mena tidak mengenal peri kemanusiaan.”

Begitu juga dengan pernyataan Siwar Ronowidjojo :

… adapun nama direktur Sekolah adalahYanakita. Setelah semua siswa masuk, direktur berbicara : “mulai sekarang semua siswa pulang masing-masing !”. Jadi para siswa bertanya-tanya ada apa, dan begitu keluar dari sekolah terdengar di radio,  bahwa bung karno memproklamirkan detik-detik proklamasi kemerdekaan 17-8-45, …
Berkecamuknya perang dunia ke II, dengan jatuhnya Belanda ke tangan Nazi pada tahun 1940, membuat  Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga keseluruh wilayah jajahannya, termasuk juga Madura. Mereka secara darurat menambah anggota meliternya dengan cara mengadakan milisi, stadwach, dll. Namun sayang apa yang mereka usahakan akhirnya sia-sia, karena sebagaian rakyat tidak tertarik dalam mengambil bagian.Dilain hal, Pada juli 1941, pemerintah Hindia-Belanda telah  mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Juni 1941 negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal. 

Di pertengahan tahun yang sama, Pimpinan meliter Jepang akhirnya memutuskan untuk menyerang ketiga negara tersebut sekaligus, tujuannya tak lain agar sumber daya alam yang ada di kawasan Asia Tenggara bisa dimanfaatkan memenuhi  kebutuhan industri ataupun angkatan perang  milik Jepang.Admiral Isoroku Yamamoto, Panglima Angkatan Laut Jepang, mulai mengembangkan strategi perang yang sangat berani, yaitu mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk dua operasi besar.  Tanggal 7 Desember 1941, dibawah pimpinan Admiral Chuichi Nagumo, armada perang ini secara mendadak menyerang  basis Armada Pasifik Amerika Serikat di Pearl Harbo, kepulauan Hawaii. Kemudian setelah penyerangan tersebut pada awal-awal bulan pertamatahun 1942, pasukan Jepang juga mulai menyerang dan mengambil alih Filipina, Thailand, Malaya, Singapura, Pulau Wake, Britania Baru, Kepulauan Gilbert,  Guam dan juga  Hindia-Belanda (Indonesia).Dalam dokumen Armada Gabungan Angkatan Laut Jepang "Perintah Rahasia Nomor Satu" tertanggal 1 November 1941, tujuan awal kampanye Jepang dalam perang adalah untuk mengeluarkan kekuatan militer Inggris dan Amerika dari Hindia - Belanda dan Filipina, dan untuk membentuk kebijakan swasembada otonom dan kemandirian ekonomi. Di Hindia-Belanda, Pulau Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Pulau Sumatera sebagai sumber minyak utama.

Pendudukan tentara Jepang di Hindia-Belanda, diawali dengan dikirimnya bantuan Jepang ke Pulau Sumatera yang bertujuan  untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan yang ada. Bulan Januari 1942, dimulai dari wilayah Tarakan (Kalimantan Timur), tentara Dai Nipoon mulai menguasai wilayah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia, berturut-turut kemudian wilayah Balikpapan, Ambon,Kendari, Pontianak dapat dikuasaipada bulan yang sama. Pada bulan Februari 1942 Jepang berhasil menguasai Palembang. Pada tanggal 5 Maret 1942 tentara Jepang juga  berhasil menguasai Batavia. Karena semakin terdesak serta tidak adanya adanya bantuan dari Amerika Serikat, akhirnya Pemerintah Hinda -  Belanda terpaksa harus menyerah tanpa syarat kepada Jepang melalui Perjanjian Kalijati di Subang, Jawa barat pada tanggal 9 Maret 1942. Perjanjian ini ditandatangani oleh Jenderal Teerporten (Panglima KNIL)  selaku wakil dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda  yaitu Mr A.W.L  Tjarda Van Stackenborg Stackhouwer dan Jenderal Immamura sebagai Pimpinan bala tentara Jepang di Indonesia.

Selepas perjanjian tersebut, tepat tanggal 12 Maret 1942, seluruh pulau Madura telah dikuasai oleh bala tentara  Jepang. Kisah awal kedatangan pasukan-pasukan tentara Jepang ke Pulau garam tergambar dalam catatan-catatan para pejuang Sumenep yang dirangkum oleh Sulaiman dalam sebuah makalah pokok saresahan sehari tahun 1994 yang berisi tentang kisah perjuangan rakyat Sumenep pada perang kemerdekaan tahun 1942 – 1949. Diantaranya :Sahwonoedin Djojoprajitno, yang pada saat itu berada di Pulau Kangean, menuliskan kisahnya sebagai berikut :

…. Maka dengan segera secapat kilat, bergeraklah pasukan-pasukan tenno heika, bala tentara dai Nippon menuju ke selatan. Menghadapapi serangan bala tentara Jepang bagaikan menghadapi banjir dari utara, kegagahan bala tentara segera pudar, tidak terhenti, semangatnya patah, lemah lunglai tak berdaya. Pernyataan Jendral Ter Poerten : “ Liever Stande stervendan  knielende te lever”[1]  tidak berlaku akibat serangan Jepang ke Kalimantan. 3 orang Belanda Sabat menanti datangnya kapal-kapal Belanda… berusaha menyelamatkan diri. Dengan naik perahu layar langsung menuju Australia … Beberapa hari berlayar, mereka mampir ke Pulau Sapeken. Perahu itu dinahkodai oleh anak muda Amir dari Makassar … Terjadi perbantahan antara anak perahu dan 3 orang Belanda tersebut. Seorang diantara Belanda itu berusaha menujukkan gigi , bahwa Belanda adalah penguasa yang tidak boleh dibantah. Secepat kilat Amir bertindak. Dengan ketangkasannya, ia bergulan dan … Belanda itupun harus menyerahkan jiwanya diatas permainanombak, hilang tak tentu dimana sumbernya … mereka tidak berkutik lagi,menjadi tawanan dalam perahu. (selanjutnya tawanan tersebut diserahkan kepada Jepang).

Begitu juga dengan Munawar Sarbini, dalam catatannya yang berjudul setitik embun, beliau berkisah tentang tidak adanya aktifitas perkumpulan guru semenjak tentara Jepang menguasai  Sumenep:Di Sumenep, para pergerakan (pejuang)telah mengadakan perkumpulan-perkumpulan seperti, kumpulan agama, kumpulan kepala dan diskusi-diskusi dsb. Guru-guru mengadakan kumpulan dengan nama “Debating Club” (DC). Debating Club ini rapatnya diadakan tiapminggu bergiliran di rumah masing-masing anggota. Jika ditanyakan orang luar, “apakah tujuan DC tersebut?” jawabannya, “untuk meningkatkan  meningkatkan pengetahuan guru-guru dalam cara mengajar”. 

Tetapi sesungguhnya membicarakan politik.…Setelah Jepang ada di Sumenep, kegiatan-kegiatan kaum pergerakan tidak nampak. Apa yang diharapkan oleh rakyat bawahan seperti saya, hilang musnah. Harapan yang diangan-angan saya pada zaman Penjajahan Belanda, apabila Indonesia  dijajah Jepang , maka barang-barang akan murah. Tapi setelah jepang di Indonesia, barang bukan tambah murah,namun kenyataannya tambah mahal dan tambah kurang. Yang ada hanyalah kekejaman tentara Jepang.

[1] Lebih baik mati berdiri dari pada hidup bertekuk lutut

Sumenep Heritage Trail 2015 bersama siswa-siswi SMA Negeri 2 Sumenep | 17 mei 2015Menelusi serpihan sejarah perkembangan kota Sumenep di era Kolonial. Lokasi kunjungan pertama yaitu Benteng Kalimo'ok yang difungsikan sebagai posperdagangan oleh VOC pada paruh kedua abad ke-18. Dan lokasi ke dua, Eks Pabrik Garam Kalianget yang dibangung pada akhir abad ke-19. (foto Faiq NF)


Mengungkap perjalanan sejarah Bangunan SMPN 5 Marengan dan SDN Marengan 3 dan sekitarnya.


Anda tentunya semua tahu bangunan SMPN 5 Marengan dan bangunan sekitarnya merupakan bangunan-bangunan yang bernuansa kolonial. Tapi tahukah anda, difungsikan sebagai apakah bangunan-bangunan tersebut pada saat itu ?! Berikut penelusuran singkat saya dalam mengungkap perjalanan sejarah yang sempat terekam di kawasan tersebut.

Siapakah yang tidak tahu Marengan, sebuah desa yang terletak disebelah timur kota Sumenep yang terkenal dengan kuliner "Patthola-nya" itu. Posisinya yang cukup strategis menghubungkan kota Sumenep dan Kalianget membuat kawasan ini menjadi kawasan terpenting pada Jamannya. Marengan Tempo Dulu, pada masa Kolonial menjadi suatu kawasan terpenting bagi orang-orang kulit putih di Soemenep. Disini, semua pergerakan ekonomi komoditas Garam dikendalikan, permukiman masyarakat Eropa juga mulai dibangun, pusat-pusat pemerintahan pihak kolonialpun pun tak jauh dari kawasan ini, tak ketinggalan pula, kawasan ini menjadi kawasan ekonomi terpenting di Sumenep pada tahun 1800-an. 

Pesatnya perkembangan ekonomi yang dimonopoli oleh pihak kolonial dan eksistensi kekuatan mereka semakin besar, membuat beberapa orang-orang Eropa menjadi pendatang di tanah Hindia (Indonesia). Salah satunya Dirk van Duyne, yang rela melakukan perjalan jauh dari Scheveningen (salah satu kota pesisir di Belanda) ke Hindia pada tahun 1850. Saat itu umurnya baru memasuki usia 20 tahun. 

Dirk Van duyne atau yang dikenal dengan Dirk I memulai awal karirnya sebagai seorang penjaga di salah satu anggota keluarga di Pulau Jawa dan kemudian perpindah tempat tinggal ke Pamekasan dan hingga akhirnya ke Sumenep. Setelah bertahun-tahun lamanya Dirk I menanggalkan Jabatannya sebagai salah satu pegawai dinas sipil dan memulai awal karirnya sebagai Pedagang. Di Sumenep dia tinggal di “Kampung Eropa” Marengan dan menikah dengan gadis Jawa yang bernama Marian (Mariam) dan dikaruniai sebelas orang anak. 

Setelah karir dagangnya mengalami kemuduran untuk yang pertama kalinya, akhirnya perusahaan dagangnya mulai mencoba untuk bangkit sehingga usahanya tersebut  berkembang hingga sangat pesat . Akhir abad 19, bisnis utamanya menjadi yang pertama di Pulau Madura. Bisnis usahanya berkembang sehingga memiliki banyak usaha seperti hotel, pabrik es, sejumlah Kano (perahu), tembakau dan garam, dan empat buah kapal besar yang selalu siap sedia di Pelabuhan Kalianget. 

Dimasyarakat, Dirk I tak hanya dikenal sebagai seorang pengusaha yang handal, tapi dia juga dikenal sebagai seorang organisatoris di wilayahnya, beberapa posisi penting dan strategis juga pernah dia pegang. Antara lain sebagai anggota dewan daerah dari pulau Madura, Anggota Komite Gereja di Marengan, Anggota Komite Sekolah HIS Soemenep, dan Sekretaris perkumpulan masyarakat Eropa di Marengan yang ia dirikan bersama-sama kerabatnya. Di akhir hidupnya dia mendirikan sebuah gereja protestan bagi masyarakat hindia di halaman rumahnya. Dia meninggal tahun 1917. Dan bisnis usahanya dilanjutkan oleh putranya, Dirk II dan terakhir oleh Dirk III bersama-sama keluarga lainnya. 

Keluarga Van Duijne dikenal sebagai Keluarga penguasaha yang kaya dibandingkan dengan tokoh-tokoh local pada zamannya. Kejayaan bisnisnya berakhir setelah invansi meliter Jepang pada tahun 1942 di Madura. Dari kejadian waktu itu hanya ada beberapa anggota keluarga saja yang selamat, yakni Dirk III, dan hidup bebas setelah kemerdekaan Indonesia. Dirk III meninggal di Malang tahun 1948.

Dari perjalanan sejarah singkat tersebut, saya merasa tertantang untuk menemukan bukti-bukti yang masih tersisa di kawasan tersebut. Perjalan dalam menguak bukti-bukti itu saya mulai dari kawasan Pabean terus ke timur, ke daerah Marengan. Di Marengan kawasan yang paling banyak menyimpan bangunan-bangunan kolonial ada disekitar ghaladak rantai, pada masa kolonial jembatan itu dikenal dengan jembatan angkat atau ophall burgh. 

Disekitar jembatan ini saja setidaknya ada sekitar 5 bangunan yang mempunyai ciri-ciri arsitektur kolonial modern, dan sisanya merupakan bangunan dengan arsitektur indishnya. Dari sekian banyaknya bangunan bersejarah disana, satu bangunan yang cukup menarik perhatian saya adalah bangunan di Sebelah Barat SMPN 5 Marengan, sebuah bangunan cantik dengan ornamen bunga-bunga pada bagian gevelnya. Di depan bangunan tersebut terpampang tulisan yang sudah lusuh, SDN Marengan 3. 

Sore itu, saya ditemani Mas Kiki, salah satu anggota komunitas sepoeloe mencoba mencari tahu bangunan tersebut. Di beranda samping, nampak bapak-bapak paruh baya sedang menikmati dinginya sore itu dengan mencukur kumisnya. Karena waktu hampir magrib kami langsung saja menjelaskan tujuan dan maksud kami, yakni menyatakan seputar perjalan sejarah bangunan itu, dan sekalian meminta ijin untuk mendokumentasikannya. Dari perbincangan singkat tersebut, terungkap bahwa bangunan yang kami datangi ini adalah bangunan bekas Hotel van Duyne, hotel yang dibangun oleh keluarga pengusaha yang tersohor itu. disekitarnya juga ada bangunan - bangunan yang dulunya milik dari keluarga van duyne, antara lain Pabrik Es yang bangunannya tepat ada di sebelah barat dari hotel, Rumah tinggal keluarganya yang saat ini sudah beralih fungsi sebagai SMPN 5 dan beberapa bangunan lainnya di sebelah timur sekolah tersebut. Sayangnya dari peninggalan itu sudah tidak semuanya utuh lagi, beberapa bangunan milik keluarga van duyne sudah ada yang dibongkar, salah satunya Bangunan Gereja yang dibangun di halaman rumah Dirk I. 

Dari perjalan mengungkap peninggalan-peninggalan milik pengusaha tersohor itu. dapat disimpulkan, bahwa kawasan milik Dirk van duyne ini tidak jauh dari kawasan paling elit di jamannya. Bangunan-bangunan hotelnya dekat dengan Jembatan Angkat (Ophallburg), Pasar Marengan, Kantor telegraf, dan juga D' Societeit.





Perjalanan sejarah singkat keluarga Van Duijne saya sunting dari Koran Reformatorisch Dagblad, 17 oktober 1991 Halaman 21 via http://www.digibron.nl/ dengan judul Scheveningse familie bekleedde belangrijke functies op Madura | Keluarga Scheveningen memegang posisi penting di Madura


Kegiatan bhakti situs kali ini merupakan program pertama kali yang diadakan oleh Komunitas Songennep Tempo Doeloe pada hari Kamis, 6 Juni 2013 lalu. Kegiatan ini diprakarsai oleh muda mudi Sumenep yang mempunyai kepedulian terhadap beberapa bangunan bersejarah yang terbengkalai dan tidak diperhatikan oleh Pemerintah daerah dan masyarakat lainnya.

Kegiatan bersih-bersih ini selain dihadiri oleh teman-teman anggota komunitas, juga dihadiri oleh beberapa orang kawan dari organisasi lainnya seperti Gerakan pemuda restorasi pancasila, Perangkat desa Kebun agung dan juga perwakilan dari yayasan penjaga asta tinggi.

Kegitan yang dipusatkan di sekitar situs Makam Tumenggung Yudanagara ini dimulai dari pukul 07.00 sampai 10.30. Menurut penanggung jawab kegiatan R.B. Ahmad Alif  Firmani, berharap  kegiatan serupa bisa dilakukan secara berkala ke depannya di tempat-tempat bersejarah lainnya bersama-sama masyarakat di sekitar situs. (Fq/foto : Novi BMW)

Kondisi lingkungan makam ketika masih ditumbuhi
semak belukar
Ca kanca SEPOELOE bersama dengan organisasi
lainnya, penjaga asta tinggi dan perangkat desa Kebunagung
berkerja bakti bersama membersihkan makam
 
Kondisi makam setelah kerja bhakti